Di masa yg sekarang ini perempuan memang sudah cukup terlepas dari sistem patriarkal, tapi perempuan harus ingat juga bahwa insting seksual laki-laki masih menetap di dalam dirinya selama hidupnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa insting tersebut akan terbangkitkan oleh objek yg berelasi thd seksualitas. Salah satu objek yg berelasi thd seksualitas adalah penampilannya, dalam hal ini pakaian yg seksi/lekuk tubuh. Dengan demikian apakah berarti tubuh perempuan hanya sebatas tubuh seksual ? pertanyaan ini mungkin agak memprovokasi feminis, karena memarjinalkan perempuan.

Pada dasarnya laki-laki dan perempuan memiliki tubuh seksual. Tubuh seksual berarti integrasi dari bagian-bagian tubuh (objek) yg mengandung rangsangan seksual. Apa saja bagian tubuh yg menjadi objek rangsangan seksual ? cukup banyak, mungkin hampir meliputi semua tubuh (mengingat banyak macam fetish). Tapi yang biasanya paling umum menjadi objek rangsangan seksual itu ada di bagian alat kelamin laki-laki dan payudara perempuan.

Perempuan mungkin akan terangsang secara seksual ketika melihat tonjolan bentuk penis, dan begitupun juga laki-laki akan terangsang ketika melihat payudara yg menonjol. Namun reaksi itu bukan semata-mata hendak menjadikan mereka (laki-laki & perempuan) sebagai pelaku pencabulan. Rangsangan seksual terjadi secara reflektif (terpengaruh oleh unsur-unsur biologis). Adapun tindakan yang terjadi selanjutnya (setelah perangsangan) seperti mencabuli, masturbasi, memperkosa dsb, itu semua bukan berasal dari rangsangan itu sendiri, melainkan dari kehendak (kesadaran). Rangsangan jika diumpamakan hanyalah bahan bakar mobil, sedangkan yang menjalankan mobil adalah kehendak.

Dalam kasus pencabulan thd perempuan, perempuan selalu dipojokkan sebagai biang masalah karena penampilannya yg seksi. Penampilan perempuan yg seksi dianggap memberi rangsangan seksual pada laki-laki. Bagi laki-laki rangsangan seksual itu sesuatu yg tidak terelakan, karena sudah menjadi insting dasar laki-laki. Mereka lupa bahwa ada aspek lain yg lebih krusial dalam pencabulan, yakni kehendak laki-laki dalam menanggapi rangsangan seksual.

Maka dalam hal ini pembelaan antara perempuan dan laki-laki dalam kasus pencabulan, sama-sama gagal. Perempuan berpakaian bebas (disini berpakaian seksi) karena memegang prinsip "my body my choice" dan menyalahkan laki-laki karena tidak menjaga pandangannya yg sarat dengan objektifikasi seksual. Padahal mereka juga salah, karena telah menonjolkan tubuh seksualnya, yang tentu akan berpotensi melahirkan persepsi cabul serta membangkitkan rangsangan seksual pada laki-laki.

Sedangkan laki-laki beranggapan bahwa pencabulan itu terjadi karena seksinya penampilan perempuan. Tindakan perempuan dalam berpenampilan memicu tumbuhnya rangsangan seksual pada laki-laki. Mereka (laki-laki) lupa kalau peran dari rangsangan seksual itu bukan sebagai pengendali tindakan. Yg mengendalikan tindakan itu tidak lain adalah kehendak. Kehendaklah yg bertanggung jawab dalam menciptakan suatu tindakan.
[Melihatmu]
Bagai pantai tanpa desiran ombak,
disana tenang tiada terusik.
Bagai oasis di gurun yang tandus,
memberikan harapan untuk hidup.
Demikianlah kiranya suasana hatiku,
sejak pertama kali bertemu denganmu.

Dipancar senyuman darimu,
hatiku berdegup kencang.
Mulutku tersekap oleh pandangan,
tiada kata yang sanggup terungkap.
Kau tampak begitu mempesona,
namun sekaligus juga menggentarkan.

Dalam gelora sukacita yang mengumpat,
terbersit suatu harapan untuk mendapatkanmu.
"Semoga kau menjadi milikku".


[Mengenalmu]
Takdir membawa kita pada pertemuan,
kita saling bercakap pada akhirnya.
Jiwaku diselimuti oleh kecemasan,
namun citramu yang lembut membawaku
pada ketenangan.
Begitu tenang kau berbicara,
sehinggakan membuatku terpana.

Aku larut dalam pesonamu,
semua terasa senyap kecuali engkau
yang tengah berbicara.
Dengan antusias kau bercerita tentang
pengalamanmu, sesekali kau tertawa.
Ada keraguan bagiku atas tawamu,
namun keceriaanmu tetap menjadi dasar kebahagiaanku.

Tak dapat dipungkiri,
hatiku gembira dalam suasana itu.
Jiwaku seolah berpesta demi
merayakan gembiranya hati.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta ?
mungkin bukan.


[Mengagungkanmu]
Bagiku kau adalah keagungan.
Seperti mahkota raja, kau begitu indah,
mulia dan harus dilindungi.
Tak layak kusandingkan dirimu dengan
kejelekan dan keburukan.
Siapapun yang menyentuhmu haruslah
terhindar dari segala kekotoran.

Setelah euforia atas pemuliaanmu,
aku mendadak duduk dan termangu.
Indahmu tiada bandingan,
sedang aku cuma perantau yang lusuh.
Engkau yang diliputi oleh keindahan dan kemuliaan,
layak kah aku yang kumal ini menjagamu ?

Takdir, seolah menuntutku untuk
kembali kepada kesuraman.
Langit yang tadinya cerah,
kini menjadi mendung.
Dari langit, rintikan air mulai turun.
Gemercik suara di danau kian mengeras,
tanda hujan telah menderas.
Hewan-hewan berlari kembali kerumahnya,
atau sekadar mencari tempat bernaung.
Aku bersama sepi,
tertegun dalam suasana itu.
Dalam agama islam Allahuakbar merupakan kalimat takbir yang seringkali digunakan dalam ritual peribadatan seperti sholat, dzikir dan lain sebagainya. Allahuakbar jika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Allah Maha Besar. Apa arti dari Allah Maha Besar ? Saya pribadi menafsirkan ini sebagai suatu pernyataan bahwa Allah adalah kebesaran yang melampaui segala kebesaran-kebesaran yang ada. Kebesarannya meliputi segala dimensi ruang dan waktu. Jika kita melihat kebesaran bumi, maka kebesaran Allah melampaui itu. Jika kita melihat kebesaran galaksi, maka kebesaran Allah melampaui itu. Jika kita melihat kebesaran alam semesta/jagat raya, maka kebesaran Allah melampaui itu. Kebesaran Allah menguasai dualitas dari spatiotemporal, yakni antara keberadaan ruang dan ketidakadaan ruang & antara waktu dan ketidakadaan waktu. Allah bahkan menguasai segala pluralitas objek yang kita indikasikan sebagai kebesaran. Allah adalah yang Maha Besar sekaligus Maha Kuasa.

Di kehidupan sehari-hari jika kita menautkan konsep Allahuakbar kedalam batin, maka tidak adalagi ketakutan dalam hidup. Karena satu-satunya hal yang patut ditakutkan adalah Allah semata. Ketika kita menghadapi sosok gaib nan menyeramkan namun di dalam batin kita tertanam keyakinan Allahuakbar, maka tanpa membaca ayat kursi pun jiwa kita tidak akan mengalami kegentaran. Kemudian ketakutan pada kekondisian seperti kelaparan, kemiskinan, kematian dll, semua tidak ada apa-apanya dibanding kebesaran Allah. Jika kita merenungkan dan bersikap sensitif pada persoalan ini, maka kita akan menyadari bahwa perbuatan takut serta membesarkan sesuatu yang selain Allah, sesungguhnya mengandung unsur syirik yakni mempersekutukan Allah.

Namun terjadi problem juga disini. Ketika kita terjun ke dalam euforia akan kebesaran Allah, seringkali kesadaran kita teralihkan pada kenyataan. Semisal kita menghadapi masalah ekonomi. Kita menyadari betul bahwa masalah ekonomi tidak ada apa-apanya dengan kebesaran Allah, dan akhirnya kita melupakan masalah tersebut tanpa mau memikirkan itu dan mencari solusinya. Dan akhirnya terjadilah pelarian (dengan kedok pertaubatan) melalui kezuhudan/kepertapaan (meninggalkan duniawi). Kezuhudan sebenarnya tidak salah, namun menjadi salah ketika motifnya adalah pelarian bukan penyempurnaan.

Atas hal tersebut beberapa filsuf seperti Marx dan Nietzsche mengajukan pandangan yang sinis terhadap orang-orang yang seperti itu. Bagi Marx mereka ini adalah orang-orang yang kehilangan harapan hidup sehingga akhirnya memilih untuk menceburkan diri ke dalam "opium". Kemudian Nietzsche juga menganggap mereka ini adalah orang-orang inferior serta memiliki mentalitas budak. Mereka adalah orang-orang yang kalah, orang-orang yang enggan untuk berkata 'ya' pada kehidupan. Selain dari filsuf yang terindikasi ateis seperti Marx dan Nietzsche, Kierkegaard yang merupakan filsuf religius juga agak sinis dengan hal yang seperti itu, khususnya terkait kepertapaan. Bagi Kierkegaard kepertapaan adalah tindakan pengecut, karena itu tidak lain hanyalah modus untuk menghindari tanggung jawab. Dari sini dapat disimpulkan bahwa keyakinan atas kebesaran Tuhan (Allah) hendaknya jangan dijadikan objek tujuan hidup, melainkan cukup sebagai cara dalam mencapai tujuan hidup. Jika kemaha besaran Allah dijadikan tujuan hidup, maka akan berakhir pada kepertapaan.

Ketika kita menautkan Allahuakbar ke dalam batin kita, itu tidak serta merta menjadikan diri kita kebal. Kita akan tetap bisa merasakan sakit dari segala 'benturan', karena sakit sendiri merupakan karakteristik dari kebertubuhan manusia. Rasa sakit dirancang untuk merespon sesuatu yang membahayakan tubuh kita. Jadi sakit itu memang semacam hal yang alamiah, entah itu sakit secara fisik maupun psikologis. Namun sebagaimana adanya sakit, maka ia harus segera disembuhkan. Dalam penyembuhan ini khususnya di ranah psikologis, pertautan antara Allahuakbar dan sakitnya batin terjadi. Dalam penyembuhan yang dilandasi oleh pertautan antara keduanya, memiliki durasi yang relatif cepat (tergantung intensitas dari pertautan tersebut). Jadi secara praktis keterjalinan antara Allahuakbar dan sensitivitas batin, merupakan bagian dari upaya penyembuhan atas rasa sakit dari benturan-benturan kehidupan.
Kemarin lusa, saya dan teman saya ke rumah dosen untuk meminta ttd persetujuan terkait skripsi. Kami berbincang-bincang dengan beliau dan saya mendapatkan bahan renungan terkait aktualisasi diri. Beliau kira-kira menjelaskan tentang bagaimana ayat-ayat Qur'an bisa membantu kita dalam mencapai versi terbaik dari diri kita.

Beliau kemudian memberi beberapa contoh orang-orang (kawan yang saya kenal) yang terindikasi sudah berhasil dalam mencapai versi terbaik dari diri mereka. Menurut beliau saya dan temen saya (yang bareng ke rumah dosen) masih belum terlihat versi terbaik dari diri kita. Dalam hati ada semacam penyangkalan, karena versi terbaik yang dicontohkannya itu lebih seperti kesuksesan prestatif yang mainstream yakni terkait karir & akademis.

Bagaimanapun juga saya cukup paham dengan beliau, mungkin alasan beliau mencontohkan itu karena itu sederhana dan mudah dicerna. Cuman bagi saya kesuksesan macam itu bukan bentuk dari aktualisasi diri, melainkan lebih ke keberbauran mengikuti keinginan massa (dalam alur status quo) sebagai bentuk dalam mengamankan diri dari keterasingan.

Mungkin itu tadi agak terdengar sinis dan juga ofensif karena mengatakan "itu bukan...". Bagaimanapun juga sebenarnya gue tidak menyalahkan adanya kesuksesan macam itu, saya hanya mengkritik (disertai emosi) tentang adanya ruang sempit terhadap konsep dari kesuksesan prestatif. Mungkin orang akan berkata sinis "Itu contoh pernyataan yg muncul dari orang-orang yg kalah". Tapi memang benar begitu.

Sebagaimana terjadinya pertarungan (kompetisi) dalam suatu arena, saya kalah. Alih-alih bangkit dan bertarung kembali memasuki arena, saya lebih memilih untuk mempertanyakan ulang tujuan saya bertarung (merenung). Dan dari hasil perenungan itu saya memilih mundur dan mencoba keluar dari arena tersebut.

Kembali ke aktualisasi diri. Beliau menjelaskan kalau ingin mencapai 'versi terbaik dari diri sendiri' perlu memperhatikan dua hal yakni "apa yang sudah aku lakukan ?" dan "apakah ada perubahan/perkembangan dari apa yang sudah dilakukan sebelumnya ?", cukup menginspirasi. Ditambah lagi dalam kajian Buya Syakur saya menemukan adanya istilah baru yakni 'cita-cita yang mulia', ini cukup mencerahkan. Perkataan dari dosen saya & Buya Syakur membuat saya tersadarkan. Penglihatan saya juga jadi lebih jelas tentang apa yang harus saya lakukan, dan objek dari aktualisasi diri saya juga jadi lebih terbentuk.

Dalam agama islam dosa yang dianggap paling besar adalah dosa syirik, yakni tindakan menyukutui Tuhan. Bahkan dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa tindakan menyukutukan Tuhan masuk dalam kategori tidak terampuni. Ini menandakan betapa fatalnya dosa dari tindakan menyekutukan Tuhan. Dalam islam satu-satunya Tuhan yang diakui hanyalah Allah SWT (Subhanahu wa ta'ala).

Untuk bisa membayangkan betapa fatalnya dosa tersebut, kita bisa menganalogikan Allah sebagai orang tua kita. Orang tua adalah mereka yang turut mengasihi dan menyayangi kita sejak kita dilahirkan di dunia. Mereka rela memberikan apapun yang kita butuhkan hanya demi membahagiakan kita. Mereka membimbing kita dari kecil untuk memberikan kita masa depan yang lebih baik. Namun bayangkan bagaimana perasaan mereka ketika anaknya yang tumbuh besar dengan kasih mereka, justru memilih mengabdikan dirinya untuk orang lain (yang entah darimana asalnya). Pasti muncul kekecewaan yang sangat amat mendalam. Marah dan sedih bercampur menjadi satu. Demikian juga Allah, Allah menciptakan kita di dunia ini, memelihara kehidupan kita dengan kasih sayangnya, namun kita justru memilih menggantungkan diri pada sesuatu yang selain Allah.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." [an-nisa:48].
Namun dari adanya analogi yang telah dipaparkan tadi, jangan dimaknai bahwa Allah memiliki struktur psikologis sebagaimana manusia. Analogi ini hanya meminjam 'bahasa manusia' untuk memvisualkan Allah. "Allah tidak sama dengan segala sesuatu" [as-syuura:11].

Dari pernyataan mengenai dosa besar syirik (menyekutukan Allah) muncul suatu pertanyaan, apakah Allah benar-benar tidak mengampuni dosa syirik ? saya pribadi memiliki jawabannya, namun karena jawabannya tidak berdasarkan dari ilmu sahnya melainkan melalui nalar pribadi (minim menggunakan dalil naqli), maka jawabannya akan terkesan amatir sehingga menjadi tidak valid dan tidak boleh dijadikan acuan. Seandainya terindikasi benar, maka haruslah dikritisi. Namun saya amat sangat memohon untuk menjadikan jawaban ini maksimal sekadar menjadi bahan refleksi, haram dijadikan acuan kebenaran.

Jika ditarik kembali pada penggalan surat an-nisa:48 yakni, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik)...", barangkali artinya memang benarlah bahwa Allah tidak akan mengampuni orang-orang syirik. Kemudian di penggalan selanjutnya "... dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki..." seolah menegaskan bahwa Allah hanya mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya, kecuali mereka yang syirik. Menurut pemahaman saya yang awam dan penuh keterbatasan, pengampunanNya hanya disediakan bagi mereka yang dikehendakiNya, salah satunya mereka yang tidak berbuat syirik. Jika mereka berlaku syirik, maka ampunannya tidak akan diterima, karena sesungguhnya ia bukan meminta ampun kepada Allah, melainkan pada apa yang disekutukannya (selain Allah). Jadi Allah lepas tangan terhadap sikap mohon ampun yang dilakukan oleh orang-orang syirik.

Menurut apa yang saya pahami, di alam kubur pengampunan sudah tidak berlaku lagi. Karena sudah berada dalam dimensi yang berbeda (antara alam dunia dan alam kubur). Pengampunan hanya berlaku di dalam alam dunia. Ayat ini tampaknya menjelaskan dalam konteks kehidupan di alam dunia, dimana pengampunan masih berlaku. Terlihat pada penegasan tentang pengampunan yang terdapat di penggalan kedua "...dan Dia mengampuni...". Jadi apa yang bisa saya simpulkan disini bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa sesuai dengan kehendakNya, namun khusus untuk syirik dosa tersebut tidak akan diampuni. Jika ditarik pada pertanyaan "apakah Allah benar-benar tidak mengampuni dosa syirik ?" jawabannya iya, tetapi dengan syarat ia membawa kesyirikan itu sampai pada kematiannya. Jika ia masih hidup, dan kemudian berubah menjadi orang yang tidak syirik (bertauhid), maka dosanya akan diampuni. Jadi masih ada kesempatan untuk bertaubat.

Selain itu Allah juga digelarkan sebagai Al-Ghaffar yang artinya Maha Pengampun. Adanya gelar Maha Pengampun ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah sangat amat tinggi nilainya, bahkan melampaui pengampunannya manusia. Manusia mungkin hanya bisa mengampuni seseorang dalam batasan tertentu, namun pengampunan dari Allah melampaui itu, batasannya lebih luas atau bahkan tidak ada batasan pengampunan bagiNya. Namun hal yang perlu diingat bahwa Allah tidak terikat oleh bahasa. Mengikatkan bahasa kepada Allah sama saja memberikan ruang pada keberadaan Allah. Jika kita memberikan ruang pada Allah maka kita akan bertemu banyak sekali paradoks, salah satu contohnya yakni paradoks kemahakuasaan yang diutarakan oleh Ibnu Rusyd "Bisakah sesuatu yang mahakuasa menciptakan batu yang sangat berat hingga ia tak mampu mengangkatnya?" atau paradoks seperti jika Tuhan yang tunggal memiliki sifat maha kuasa berarti secara total ia menguasai segalanya, namun jika Tuhan sekaligus juga maha adil, berarti space dari ke'maha kuasa'annya akan tereduksi secara besar-besaran (untuk diisi kemaha adilan) sehingga sifat maha kuasa tidak total lagi atau bahkan hilang. Seperti itulah dampaknya.

Jika direnungkan lebih dalam tentang kesyirikan, apakah sebenarnya kita sudah jauh dari sikap mempersekutukan Allah ? tampaknya secara tidak sadar/tidak langsung kita telah atau tengah melakukan perbuatan menyekutukan Allah. Kelihatannya sederhana tetapi bisa menjadi indikator dari adanya kesyirikan. Contohnya seperti menunda-nunda sholat. Sholat itu kan bagian dari perintah Allah, namun posisinya selalu tergeser oleh aktivitas-aktivitas yang dirasa lebih menguntungkan/menyenangkan bagi diri pribadi.

Kemudian contoh selanjutnya ketika kita berterimakasih secara berlebihan kepada orang lain. Semisal kita sangat berterimakasih sampai bersimpuh pada dokter karena sudah menyelamatkan kita dari rasa sakit dengan pengobatannya, atau bersimpuh pada atasan yang memberikan kenaikan gaji sehingga menyelamatkan kondisi ekonomi kita. Padahal itu semua merupakan ciptaanNya yang peranannya sebatas perpanjangan tanganNya. Posisi Allah secara tidak langsung telah dipinggirkan.

Kemudian contoh lainnya saat mengalami ketakutan. Rasa takut kita terhadap suatu hal (rasa sakit, kesengsaraan, kebangkrutan, dll) dan suatu sosok (hantu/jin, atasan kerja/bos, aparatus/penguasa negara, dll) seringkali lebih besar daripada rasa takut kita pada Allah. Seandainya pun kita takut pada Allah, bukan Allah yang sebenarnya kita takutkan melainkan api neraka yang diciptakanNya. Ada banyak lagi contoh kasus dimana kita sebenarnya telah/tengah melakukan kesyirikan. Maka, sebaiknya kita memang harus senantiasa berpikir tentang Allah dan mempekakan diri pada ketauhidan, jangan sampai kesyirikan yang tidak disadari ini terbawa sampai pada kematian.
Konon manusia itu tidak luput dari yang namanya dosa, tapi apa itu dosa ? secara etimologi dosa berasal dari kata dvesa (bahasa sansekerta) yang berarti kebencian, marah, merusak, tidak suka, tidak senang, tidak puas, tidak penerimaan, yang tergolong penolakkan. Secara terminologi dosa diartikan sebagai kesalahan, pelanggaran, kekeliruan, dll.

Dosa memiliki kaitan yang erat dengan moralitas (agama) dan aturan (norma dan hukum negara), karena keduanya dijadikan acuan manusia dalam bertindak tertib dan teratur dalam bermasyarakat. Ketertiban dibentuk guna mencegah adanya kekacauan (chaos) dalam kehidupan bermasyarakat, atau lebih luasnya kehidupan di dunia. Namun istilah dosa sendiri lebih akrab digunakan pada konteks keagamaan daripada konteks norma dan hukum negara. Istilah dosa dalam kenormaan mungkin lebih dekat dengan kata asusila atau imoral, sedangkan hukum negara lebih akrab dengan istilah pelanggaran atau ilegal.

Ketika seseorang dinyatakan menyimpang dengan garis moral/aturan, maka ia akan dinyatakan sebagai yang berdosa. Dan mereka yang berdosa harus menanggung konsekuensi berupa hukuman yang sudah ditentukan oleh acuan yang ada (moralitas/aturan). Dalam ranah hukum, mereka yang menyimpang dari aturan akan diberikan sanksi berupa denda, kurungan penjara, atau bahkan hukuman mati (di beberapa negara). Lalu dalam ranah kenormaan, mereka yang menyimpang akan diberikan hukuman sosial seperti dijauhi, ditinggalkan atau apapun itu yang sifatnya mengasingkan. Kemudian pada ranah agama mungkin agak kompleks, karena luas dan cukup abstrak, maka perlu dijabarkan lebih dalam. Mereka yang menyimpang dari garis agama akan dikenakan hukuman berupa siksaan di dunia (karma buruk, penderitaan psikologis, kisas, dll) dan di akhirat (neraka).

Dalam agama tertentu terdapat macam-macam perbuatan yang terindikasi sebagai dosa. Dalam agama kristen diketahui terdapat tujuh macam dosa pokok yang mematikan (seven deadly sins). Tujuh dosa ini terdiri atas pride (kesombongan), greed (ketamakan), envy (iri hati), wrath (kemarahan), lust (hawa nafsu), gluttony (kerakusan), dan sloth (kemalasan). Konsep mengenai tujuh dosa besar berawal dari pikiran seorang biarawan bernama Evagrius Ponticus. Evagrius tidak pada dasarnya tidak menulis untuk khalayak umum. Ia merupakan biarawan dari gereja kristen timur. Ia menulis kepada biarawan lain tentang adanya pemikiran buruk yang kemungkinan besar dapat mengganggu latihan spiritual mereka. Pemikiran buruk ini terbagi menjadi delapan jenis, yakni; kerakusan, nafsu, ketamakan, kemarahan, kemalasan, kesedihan, kebanggaan dan kesombongan. Namun konsep pemikiran tersebut mengalami revisi seiring berjalannya waktu. Hingga pada akhirnya konsep tersebut jatuh di tangan gereja katolik katekisme dan difinalkan menjadi tujuh dosa inti/pokok.

Kemudian dalam agama Islam, para ulama membagi dosa menjadi dua macam, yakni dosa kecil dan dosa besar. Dosa-dosa kecil adalah dosa yang berasal dari kesalahan-kesalahan kecil, sedangkan dosa besar berdasarkan suatu riwayat hadis (dari kitab ushul al-kafi) disebutkan "dosa-dosa besar adalah dosa-dosa yang mendatangkan siksa api neraka". Dijelaskan oleh Imam Ja'far al-Shadiq, setidaknya terdapat 19 macam dosa besar menurut Al-Qur'an dan sabda nabi & rasul, yakni; menyekutukan Allah (an-nisa:72) yang mana ini merupakan dosa paling besar, berputus dari rahmat Allah (yusuf:87), merasa aman dari siksa dan penangguhan Allah (al-a'raf:99), menyakiti hati atau durhaka pada orang tua (Sabda Nabi Isa), membunuh orang tak berdosa (an-nisa:93), menuduh perempuan baik berbuat zina (an-nur: 23), makan harta anak yatim (an-nisa:10), lari dari medan perang (al-anfal:16), makan riba (al-baqarah:275), sihir (al-baqarah:102), zina (al-furqan:68-69), sumpah bohong demi sebuah dosa (al-imran:161), tidak membayar kewajiban zakat (at-taubah:35), sumpah palsu dan menutupi kebenaran (al-baqarah:283), minuman keras (al-maidah:90), meninggalkan shalat atau kewajiban lain secara sengaja (sabda Rasullullah), mengingkari janji dan memutuskan hubungan silaturahmi (al-furqan:25).

Selanjutnya pada agama buddha, dosa tidak tergambar sebagai kata nomina (sebagaiamana penggambaran dosa di 2 agama sebelumnya) seperti pelanggaran atau kesalahan, penggambaran dosa dalam agama buddah cenderung mengarah pada kata sifat. Dosa dalam hal ini menjadi bagian dari tiga akar kejahatan. Tiga akar kejahatan itu adalah lobha, dosa dan moha. Dosa dalam hal ini diartikan sebagai kebencian. Kebencian terhadap orang lain, diri sendiri, iri hati, dendam kesumat dan hal-hal lain yang tergolong pada keinginan menolak sesuatu yang baik. Dalam agama buddha juga terdapat konsep kamma/karma yang dekat dengan dosa (jika di jadikan kata nomina). Kamma merupakan kehendak untuk berbuat sesuatu yang berada dalam arena roda samsara. Perbuatan-perbuatan yang ada akan menghasilkan akibat sesuai dengan nilai dari apa yang diperbuatnya. Jika seseorang senantiasa melakukan kesalehan dan kebenaran, maka ia akan terarahkan pada jalan menuju pencerahan, dan jika ia sudah tercerahkan maka ia menggapai nibbana (kebebasan dari roda samsara). Namun jika seseorang melakukan perbuatan buruk (pancanantariya kamma) apalagi sampai pada perbuatan membunuh, maka ia akan terjebak dan terjurumus ke dalam alam dukhati (terlahir kembali di neraka avici).

Dosa dalam kehidupan ini tampaknya menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Pasalnya kehidupan menuntut kita untuk bersikap plural, sehingga secara implisit terancukan antara apa-apa yang boleh (moralitas) dan tidak boleh (dosa). Belum lagi ketidaktahuan yang membawa kita pada "eksperimen-eksperimen" (yang berpotensi berdosa) dalam upaya menggapai kebenaran. Tampaknya kesadaran dan kepekaan atas dosa memang sangat amat perlu ditekankan supaya bisa lebih berhati-hati dalam melangkahkan kaki. 

Bagi sebagian orang, dosa tampak menyeramkan. Apa yang membuat dosa terlihat menyeramkan, barangkali karena ada konsekuensi/hukuman yang berada di belakangnya. Hukuman tersebut sebegitu menyakitkannya sehingga memberi kegentaran bagi mereka. Namun tidak semua orang takut dengan yang namanya dosa, bagi mereka dosa bukanlah sesuatu yang semestinya ditakutkan. Satu-satunya yang harus ditakutkan adalah Tuhannya. Bagi mereka dosa meskipun menjadi tolak ukur dalam menimbang amalan baik dan buruk (syarat dalam memasuki alam surga dan neraka), Tuhanlah yang tetap mengintervensi langsung penimbangan itu. Jika amalan baiknya banyak namun Tuhan tidak meridhainya, maka sia-sialah amalan kebaikannya. Dan begitupun sebaliknya.

Agama menawarkan pertaubatan untuk mereka yang ingin menghapus dosa-dosa yang dimilikinya. Dalam pertaubatan, masing-masing agama memiliki kekhasannya tersendiri, terutama dalam pertaubatan yang bersifat ritual. Namun bagaimanapun juga dalam praktiknya, antara idealitas pertaubatan dengan tabiat sehari-hari seringkali bentrok. Semisal, dalam pertaubatan kita dituntut untuk senantiasa mengamalkan hal-hal tertentu demi mengurangi dosa, tapi karena tabiat kita berkontradiksi dengan amalan tersebut akhirnya sulit bagi kita untuk mengupayakan diri dalam bertaubat. Dibutuhkan usaha yang ekstra dalam pelaksanaannya.

Sumber:
https://www.history.com/news/seven-deadly-sins-origins
Dosa Salah Siapa: Mengenali dan Mengatasi Dampak Buruk Dosa karya Muhsin Qiraati
Pokok-pokok Dasar Ajaran Buddha karya Warsana S.Ag, S.Pd.