Tampaknya mayoritas perempuan sangat berhati-hati dalam hal menjaga penampilannya demi mencapai tujuan. Tujuan mereka tidak lain adalah supaya tampil rupawan. Kerupawanan perempuan umumnya sering disebut juga sebagai kecantikan. Apa sebenarnya yang mereka cari dari kecantikan itu ? apakah sebagai senjata andalan dalam menarik lawan jenis ? mungkin jika jawabannya 'iya' mereka akan protes dan menuntut hak atas ketubuhannya. Tubuh mereka adalah milik mereka sendiri, bukan milik laki-laki. Bagi mereka, kecantikan semata-mata dibuat karena untuk diri mereka sendiri. Aku pribadi tidak menyalahkan pembelaan semacam itu, wajar bagiku mengingat kaum perempuan secara historis pernah mengalami ketertindasan dimana hak-hak mereka direpresi atau bahkan dihilangkan oleh sistem patriarkal.
Tapi perempuan sendiri, bagiku juga terlalu naif dalam memaknai kecantikan. Bagi mereka cantik itu berarti bertubuh langsing, berpipi tirus, berkulit putih/coklat, dll. Mereka mungkin lupa atau tidak tahu kalau konsep tentang kecantikan perempuan yang seperti itu sudah berada di tangan para penguasa dan pengusaha kapitalis. Para penguasa bisa kita sebut para tokoh besar yang memiliki kekuasaan. Saking besarnya kekuasaan yang dimiliki, mereka sampai sanggup mengintervensi langsung tentang bagaimana menentukan standar kecantikan. Beberapa tokoh yang mendominasi itu bisa seperti para politisi, ahli kecantikan, ahli busana, dll.
Bukan hanya para penguasa, para kapitalis pun juga tidak kalah berkuasa dalam mengintervensi konsep kecantikan. Mereka membuat standar kecantikan melalui iklan produk yang dipasangnya. Di dalam iklannya berisikan pesan tentang "bagaimana cara perempuan supaya bisa terlihat cantik ?" dan jawaban atas pertanyaan itu adalah "beli lah produk ini". Kemudian di dalam iklan tersebut juga diselipkan model-model cantik yang sedang berpose, demi meyakinkan perempuan supaya sesegera mungkin membeli produknya. Produk-produk itu bisa meliputi kosmetik, pakaian, dll.
Kemudian ada juga yang memaknai kecantikan sebagai 'inner beauty', bagiku ya gak salah, cuman akan menjadi salah ketika itu digaungkan sebagai bentuk dari transvaluasi nilai (pembalikan nilai yang dianggap mapan) atau defense mechanism (mekanisme pertahanan ego). Menurutku, antara kecantikan dan 'inner beauty' itu sudah beda dimensi. Kecantikan itu kemapanan yang mewakili dimensi fisik, sedangkan dalam dimensi moral (tentang baik dan buruk) kemapanan adalah apa yang berakhlak, berbudi pekerti, tata susila dll. Mereka yang mencampurkan kecantikan fisik ke dalam dimensi moral, kemungkinan besar mereka telah berada dalam kekalahan. Bagiku mereka yang berpikir kalau dirinya jelek, harus menerima kenyataan itu. Tapi aku yakin juga, agaknya mustahil bagi mereka menerima itu. Pasti mereka akan menanggapinya secara emosional, meskipun dari luarnya tampak tersenyum. Lagipula kondisi otak antara laki-laki dan perempuan itu juga berbeda, dan dari situ manifestasi tindakannya pun pasti akan berbeda juga, termasuk dalam hal merespon sesuatu.
Tampaknya perempuan juga tidak ada pilihan lain selain mengiyakan konsep kecantikan yang ada (terekayasa) itu. Selain kalah kuasa mereka juga harus menjalani kehidupan yang di dominasi oleh para penguasa dan kapitalis. Pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah mengikuti kemauan para dominator. Mereka yang jauh dari standar kecantikan (yang terekayasa) bakal menjadi terpinggirkan, mereka merasa bahwa diri mereka itu jelek.
Tetapi mereka lupa bahwa kecantikan yang sejati tetap abadi berada di dalam dirinya. Kecantikan sejati memiliki sifat yang sangat amat eksklusif, sehingga tidak semua orang bisa melihatnya. Hanya orang-orang "yang terpilih" lah atau orang-orang khusus yang bisa melihat kecantikan itu. Bagi orang lain perempuan itu jeleknya minta ampun, tapi bagi dia (laki-laki) perempuan itu terlihat amat cantik. Kecantikan sejati itu terejawantah dalam partikularitas/subjektivitas.