Catatan Folelse: Terbuai dalam Kerupawanan


Saat pertama kali melihatmu, rasanya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada getaran yang menghasilkan euforia pada diriku. Tidak lelah pandanganku dibuat sibuk oleh dirimu. Tapi aku tahu betul, dirimu pasti tidak secara sengaja memperlihatkan keindahan itu untukku. Kau hanya menampilkan dirimu apa adanya, menampilkan apa yang terbaik bagi dirimu sendiri.

Jujur ketika kulihat wajahmu itu, aku merasa sedang menikmati keindahan. Keindahan yang begitu mempesona, sampai-sampai membuatku kegirangan dalam hati. Keindahan wajahmu memancarkan daya tarik, dan aku adalah objek yang masuk ke dalam 'arena' ketertarikan tersebut. Disitu ada perasaan kuat untuk senantiasa mendekatimu, atau bahkan lebih daripada itu, yakni memilikimu. Bagiku ketertarikan ini menjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Mengapa aku bisa tertarik dengan hal kecil semacam itu ya ?

Jika diperhatikan kembali, wajahmu hanyalah serangkaian bagian-bagian tubuh atas panca Indra yang terdiri dari mata, hidung, mulut, dan telinga yang berbentuk sedemikian rupa. Selain itu juga terdapat beberapa anggota tubuh lain yang ada di bagian kepala seperti rambut, pipi, dahi, dan dagu yang bentuknya bermacam-macam. Semua itu jika dilihat satu persatu, tampaknya tidak memberi kesan apapun selain dari fakta bahwa memang demikianlah adanya (bentuk bagian-bagian tubuh). Tapi ketika serangkaian bagian-bagian tubuh (di bagian kepala) yang 'kering' itu dilihat sebagai kesatuan, justru malah menciptakan kesan yang luar biasa. Disinilah bagiku letak dimana kerupawanan itu muncul/eksis. Ia muncul sebagai sesuatu yang terintuisi daripada sesuatu yang faktual.

Dari terciptanya kesan yang luar biasa, ada rasa kebermaknaan yang muncul setelahnya. Kebermaknaan adalah sikap praktis dari apa yang telah dikesani. Langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya, setelah kesan (luar biasa) itu muncul. Bagi mereka yang sudah terbuai dan pasrah dihadapan 'kesan yang luar biasa' itu, mereka akan memilih langkah berupa pengejaran atas kerupawanan. Namun bagi mereka yang terbuai tetapi melawan 'kesan yang luar biasa' itu, mereka akan merepresi dan menyublimasi pengejaran itu menjadi suatu (tindakan) yang lain. Keterbuaian atas kerupawanan itu, sudah menjadi keniscayaan.

0 komentar:

Posting Komentar