Ketika Tuhan Dipersekutukan


Dalam agama islam dosa yang dianggap paling besar adalah dosa syirik, yakni tindakan menyukutui Tuhan. Bahkan dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa tindakan menyukutukan Tuhan masuk dalam kategori tidak terampuni. Ini menandakan betapa fatalnya dosa dari tindakan menyekutukan Tuhan. Dalam islam satu-satunya Tuhan yang diakui hanyalah Allah SWT (Subhanahu wa ta'ala).

Untuk bisa membayangkan betapa fatalnya dosa tersebut, kita bisa menganalogikan Allah sebagai orang tua kita. Orang tua adalah mereka yang turut mengasihi dan menyayangi kita sejak kita dilahirkan di dunia. Mereka rela memberikan apapun yang kita butuhkan hanya demi membahagiakan kita. Mereka membimbing kita dari kecil untuk memberikan kita masa depan yang lebih baik. Namun bayangkan bagaimana perasaan mereka ketika anaknya yang tumbuh besar dengan kasih mereka, justru memilih mengabdikan dirinya untuk orang lain (yang entah darimana asalnya). Pasti muncul kekecewaan yang sangat amat mendalam. Marah dan sedih bercampur menjadi satu. Demikian juga Allah, Allah menciptakan kita di dunia ini, memelihara kehidupan kita dengan kasih sayangnya, namun kita justru memilih menggantungkan diri pada sesuatu yang selain Allah.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." [an-nisa:48].
Namun dari adanya analogi yang telah dipaparkan tadi, jangan dimaknai bahwa Allah memiliki struktur psikologis sebagaimana manusia. Analogi ini hanya meminjam 'bahasa manusia' untuk memvisualkan Allah. "Allah tidak sama dengan segala sesuatu" [as-syuura:11].

Dari pernyataan mengenai dosa besar syirik (menyekutukan Allah) muncul suatu pertanyaan, apakah Allah benar-benar tidak mengampuni dosa syirik ? saya pribadi memiliki jawabannya, namun karena jawabannya tidak berdasarkan dari ilmu sahnya melainkan melalui nalar pribadi (minim menggunakan dalil naqli), maka jawabannya akan terkesan amatir sehingga menjadi tidak valid dan tidak boleh dijadikan acuan. Seandainya terindikasi benar, maka haruslah dikritisi. Namun saya amat sangat memohon untuk menjadikan jawaban ini maksimal sekadar menjadi bahan refleksi, haram dijadikan acuan kebenaran.

Jika ditarik kembali pada penggalan surat an-nisa:48 yakni, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik)...", barangkali artinya memang benarlah bahwa Allah tidak akan mengampuni orang-orang syirik. Kemudian di penggalan selanjutnya "... dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki..." seolah menegaskan bahwa Allah hanya mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya, kecuali mereka yang syirik. Menurut pemahaman saya yang awam dan penuh keterbatasan, pengampunanNya hanya disediakan bagi mereka yang dikehendakiNya, salah satunya mereka yang tidak berbuat syirik. Jika mereka berlaku syirik, maka ampunannya tidak akan diterima, karena sesungguhnya ia bukan meminta ampun kepada Allah, melainkan pada apa yang disekutukannya (selain Allah). Jadi Allah lepas tangan terhadap sikap mohon ampun yang dilakukan oleh orang-orang syirik.

Menurut apa yang saya pahami, di alam kubur pengampunan sudah tidak berlaku lagi. Karena sudah berada dalam dimensi yang berbeda (antara alam dunia dan alam kubur). Pengampunan hanya berlaku di dalam alam dunia. Ayat ini tampaknya menjelaskan dalam konteks kehidupan di alam dunia, dimana pengampunan masih berlaku. Terlihat pada penegasan tentang pengampunan yang terdapat di penggalan kedua "...dan Dia mengampuni...". Jadi apa yang bisa saya simpulkan disini bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa sesuai dengan kehendakNya, namun khusus untuk syirik dosa tersebut tidak akan diampuni. Jika ditarik pada pertanyaan "apakah Allah benar-benar tidak mengampuni dosa syirik ?" jawabannya iya, tetapi dengan syarat ia membawa kesyirikan itu sampai pada kematiannya. Jika ia masih hidup, dan kemudian berubah menjadi orang yang tidak syirik (bertauhid), maka dosanya akan diampuni. Jadi masih ada kesempatan untuk bertaubat.

Selain itu Allah juga digelarkan sebagai Al-Ghaffar yang artinya Maha Pengampun. Adanya gelar Maha Pengampun ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah sangat amat tinggi nilainya, bahkan melampaui pengampunannya manusia. Manusia mungkin hanya bisa mengampuni seseorang dalam batasan tertentu, namun pengampunan dari Allah melampaui itu, batasannya lebih luas atau bahkan tidak ada batasan pengampunan bagiNya. Namun hal yang perlu diingat bahwa Allah tidak terikat oleh bahasa. Mengikatkan bahasa kepada Allah sama saja memberikan ruang pada keberadaan Allah. Jika kita memberikan ruang pada Allah maka kita akan bertemu banyak sekali paradoks, salah satu contohnya yakni paradoks kemahakuasaan yang diutarakan oleh Ibnu Rusyd "Bisakah sesuatu yang mahakuasa menciptakan batu yang sangat berat hingga ia tak mampu mengangkatnya?" atau paradoks seperti jika Tuhan yang tunggal memiliki sifat maha kuasa berarti secara total ia menguasai segalanya, namun jika Tuhan sekaligus juga maha adil, berarti space dari ke'maha kuasa'annya akan tereduksi secara besar-besaran (untuk diisi kemaha adilan) sehingga sifat maha kuasa tidak total lagi atau bahkan hilang. Seperti itulah dampaknya.

Jika direnungkan lebih dalam tentang kesyirikan, apakah sebenarnya kita sudah jauh dari sikap mempersekutukan Allah ? tampaknya secara tidak sadar/tidak langsung kita telah atau tengah melakukan perbuatan menyekutukan Allah. Kelihatannya sederhana tetapi bisa menjadi indikator dari adanya kesyirikan. Contohnya seperti menunda-nunda sholat. Sholat itu kan bagian dari perintah Allah, namun posisinya selalu tergeser oleh aktivitas-aktivitas yang dirasa lebih menguntungkan/menyenangkan bagi diri pribadi.

Kemudian contoh selanjutnya ketika kita berterimakasih secara berlebihan kepada orang lain. Semisal kita sangat berterimakasih sampai bersimpuh pada dokter karena sudah menyelamatkan kita dari rasa sakit dengan pengobatannya, atau bersimpuh pada atasan yang memberikan kenaikan gaji sehingga menyelamatkan kondisi ekonomi kita. Padahal itu semua merupakan ciptaanNya yang peranannya sebatas perpanjangan tanganNya. Posisi Allah secara tidak langsung telah dipinggirkan.

Kemudian contoh lainnya saat mengalami ketakutan. Rasa takut kita terhadap suatu hal (rasa sakit, kesengsaraan, kebangkrutan, dll) dan suatu sosok (hantu/jin, atasan kerja/bos, aparatus/penguasa negara, dll) seringkali lebih besar daripada rasa takut kita pada Allah. Seandainya pun kita takut pada Allah, bukan Allah yang sebenarnya kita takutkan melainkan api neraka yang diciptakanNya. Ada banyak lagi contoh kasus dimana kita sebenarnya telah/tengah melakukan kesyirikan. Maka, sebaiknya kita memang harus senantiasa berpikir tentang Allah dan mempekakan diri pada ketauhidan, jangan sampai kesyirikan yang tidak disadari ini terbawa sampai pada kematian.

0 komentar:

Posting Komentar