Curhat #1

Kemarin lusa, saya dan teman saya ke rumah dosen untuk meminta ttd persetujuan terkait skripsi. Kami berbincang-bincang dengan beliau dan saya mendapatkan bahan renungan terkait aktualisasi diri. Beliau kira-kira menjelaskan tentang bagaimana ayat-ayat Qur'an bisa membantu kita dalam mencapai versi terbaik dari diri kita.

Beliau kemudian memberi beberapa contoh orang-orang (kawan yang saya kenal) yang terindikasi sudah berhasil dalam mencapai versi terbaik dari diri mereka. Menurut beliau saya dan temen saya (yang bareng ke rumah dosen) masih belum terlihat versi terbaik dari diri kita. Dalam hati ada semacam penyangkalan, karena versi terbaik yang dicontohkannya itu lebih seperti kesuksesan prestatif yang mainstream yakni terkait karir & akademis.

Bagaimanapun juga saya cukup paham dengan beliau, mungkin alasan beliau mencontohkan itu karena itu sederhana dan mudah dicerna. Cuman bagi saya kesuksesan macam itu bukan bentuk dari aktualisasi diri, melainkan lebih ke keberbauran mengikuti keinginan massa (dalam alur status quo) sebagai bentuk dalam mengamankan diri dari keterasingan.

Mungkin itu tadi agak terdengar sinis dan juga ofensif karena mengatakan "itu bukan...". Bagaimanapun juga sebenarnya gue tidak menyalahkan adanya kesuksesan macam itu, saya hanya mengkritik (disertai emosi) tentang adanya ruang sempit terhadap konsep dari kesuksesan prestatif. Mungkin orang akan berkata sinis "Itu contoh pernyataan yg muncul dari orang-orang yg kalah". Tapi memang benar begitu.

Sebagaimana terjadinya pertarungan (kompetisi) dalam suatu arena, saya kalah. Alih-alih bangkit dan bertarung kembali memasuki arena, saya lebih memilih untuk mempertanyakan ulang tujuan saya bertarung (merenung). Dan dari hasil perenungan itu saya memilih mundur dan mencoba keluar dari arena tersebut.

Kembali ke aktualisasi diri. Beliau menjelaskan kalau ingin mencapai 'versi terbaik dari diri sendiri' perlu memperhatikan dua hal yakni "apa yang sudah aku lakukan ?" dan "apakah ada perubahan/perkembangan dari apa yang sudah dilakukan sebelumnya ?", cukup menginspirasi. Ditambah lagi dalam kajian Buya Syakur saya menemukan adanya istilah baru yakni 'cita-cita yang mulia', ini cukup mencerahkan. Perkataan dari dosen saya & Buya Syakur membuat saya tersadarkan. Penglihatan saya juga jadi lebih jelas tentang apa yang harus saya lakukan, dan objek dari aktualisasi diri saya juga jadi lebih terbentuk.

0 komentar:

Posting Komentar