Membatinkan Allahuakbar

Dalam agama islam Allahuakbar merupakan kalimat takbir yang seringkali digunakan dalam ritual peribadatan seperti sholat, dzikir dan lain sebagainya. Allahuakbar jika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Allah Maha Besar. Apa arti dari Allah Maha Besar ? Saya pribadi menafsirkan ini sebagai suatu pernyataan bahwa Allah adalah kebesaran yang melampaui segala kebesaran-kebesaran yang ada. Kebesarannya meliputi segala dimensi ruang dan waktu. Jika kita melihat kebesaran bumi, maka kebesaran Allah melampaui itu. Jika kita melihat kebesaran galaksi, maka kebesaran Allah melampaui itu. Jika kita melihat kebesaran alam semesta/jagat raya, maka kebesaran Allah melampaui itu. Kebesaran Allah menguasai dualitas dari spatiotemporal, yakni antara keberadaan ruang dan ketidakadaan ruang & antara waktu dan ketidakadaan waktu. Allah bahkan menguasai segala pluralitas objek yang kita indikasikan sebagai kebesaran. Allah adalah yang Maha Besar sekaligus Maha Kuasa.

Di kehidupan sehari-hari jika kita menautkan konsep Allahuakbar kedalam batin, maka tidak adalagi ketakutan dalam hidup. Karena satu-satunya hal yang patut ditakutkan adalah Allah semata. Ketika kita menghadapi sosok gaib nan menyeramkan namun di dalam batin kita tertanam keyakinan Allahuakbar, maka tanpa membaca ayat kursi pun jiwa kita tidak akan mengalami kegentaran. Kemudian ketakutan pada kekondisian seperti kelaparan, kemiskinan, kematian dll, semua tidak ada apa-apanya dibanding kebesaran Allah. Jika kita merenungkan dan bersikap sensitif pada persoalan ini, maka kita akan menyadari bahwa perbuatan takut serta membesarkan sesuatu yang selain Allah, sesungguhnya mengandung unsur syirik yakni mempersekutukan Allah.

Namun terjadi problem juga disini. Ketika kita terjun ke dalam euforia akan kebesaran Allah, seringkali kesadaran kita teralihkan pada kenyataan. Semisal kita menghadapi masalah ekonomi. Kita menyadari betul bahwa masalah ekonomi tidak ada apa-apanya dengan kebesaran Allah, dan akhirnya kita melupakan masalah tersebut tanpa mau memikirkan itu dan mencari solusinya. Dan akhirnya terjadilah pelarian (dengan kedok pertaubatan) melalui kezuhudan/kepertapaan (meninggalkan duniawi). Kezuhudan sebenarnya tidak salah, namun menjadi salah ketika motifnya adalah pelarian bukan penyempurnaan.

Atas hal tersebut beberapa filsuf seperti Marx dan Nietzsche mengajukan pandangan yang sinis terhadap orang-orang yang seperti itu. Bagi Marx mereka ini adalah orang-orang yang kehilangan harapan hidup sehingga akhirnya memilih untuk menceburkan diri ke dalam "opium". Kemudian Nietzsche juga menganggap mereka ini adalah orang-orang inferior serta memiliki mentalitas budak. Mereka adalah orang-orang yang kalah, orang-orang yang enggan untuk berkata 'ya' pada kehidupan. Selain dari filsuf yang terindikasi ateis seperti Marx dan Nietzsche, Kierkegaard yang merupakan filsuf religius juga agak sinis dengan hal yang seperti itu, khususnya terkait kepertapaan. Bagi Kierkegaard kepertapaan adalah tindakan pengecut, karena itu tidak lain hanyalah modus untuk menghindari tanggung jawab. Dari sini dapat disimpulkan bahwa keyakinan atas kebesaran Tuhan (Allah) hendaknya jangan dijadikan objek tujuan hidup, melainkan cukup sebagai cara dalam mencapai tujuan hidup. Jika kemaha besaran Allah dijadikan tujuan hidup, maka akan berakhir pada kepertapaan.

Ketika kita menautkan Allahuakbar ke dalam batin kita, itu tidak serta merta menjadikan diri kita kebal. Kita akan tetap bisa merasakan sakit dari segala 'benturan', karena sakit sendiri merupakan karakteristik dari kebertubuhan manusia. Rasa sakit dirancang untuk merespon sesuatu yang membahayakan tubuh kita. Jadi sakit itu memang semacam hal yang alamiah, entah itu sakit secara fisik maupun psikologis. Namun sebagaimana adanya sakit, maka ia harus segera disembuhkan. Dalam penyembuhan ini khususnya di ranah psikologis, pertautan antara Allahuakbar dan sakitnya batin terjadi. Dalam penyembuhan yang dilandasi oleh pertautan antara keduanya, memiliki durasi yang relatif cepat (tergantung intensitas dari pertautan tersebut). Jadi secara praktis keterjalinan antara Allahuakbar dan sensitivitas batin, merupakan bagian dari upaya penyembuhan atas rasa sakit dari benturan-benturan kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar