Melihatmu, Mengenalmu, dan Mengagungkanmu

[Melihatmu]
Bagai pantai tanpa desiran ombak,
disana tenang tiada terusik.
Bagai oasis di gurun yang tandus,
memberikan harapan untuk hidup.
Demikianlah kiranya suasana hatiku,
sejak pertama kali bertemu denganmu.

Dipancar senyuman darimu,
hatiku berdegup kencang.
Mulutku tersekap oleh pandangan,
tiada kata yang sanggup terungkap.
Kau tampak begitu mempesona,
namun sekaligus juga menggentarkan.

Dalam gelora sukacita yang mengumpat,
terbersit suatu harapan untuk mendapatkanmu.
"Semoga kau menjadi milikku".


[Mengenalmu]
Takdir membawa kita pada pertemuan,
kita saling bercakap pada akhirnya.
Jiwaku diselimuti oleh kecemasan,
namun citramu yang lembut membawaku
pada ketenangan.
Begitu tenang kau berbicara,
sehinggakan membuatku terpana.

Aku larut dalam pesonamu,
semua terasa senyap kecuali engkau
yang tengah berbicara.
Dengan antusias kau bercerita tentang
pengalamanmu, sesekali kau tertawa.
Ada keraguan bagiku atas tawamu,
namun keceriaanmu tetap menjadi dasar kebahagiaanku.

Tak dapat dipungkiri,
hatiku gembira dalam suasana itu.
Jiwaku seolah berpesta demi
merayakan gembiranya hati.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta ?
mungkin bukan.


[Mengagungkanmu]
Bagiku kau adalah keagungan.
Seperti mahkota raja, kau begitu indah,
mulia dan harus dilindungi.
Tak layak kusandingkan dirimu dengan
kejelekan dan keburukan.
Siapapun yang menyentuhmu haruslah
terhindar dari segala kekotoran.

Setelah euforia atas pemuliaanmu,
aku mendadak duduk dan termangu.
Indahmu tiada bandingan,
sedang aku cuma perantau yang lusuh.
Engkau yang diliputi oleh keindahan dan kemuliaan,
layak kah aku yang kumal ini menjagamu ?

Takdir, seolah menuntutku untuk
kembali kepada kesuraman.
Langit yang tadinya cerah,
kini menjadi mendung.
Dari langit, rintikan air mulai turun.
Gemercik suara di danau kian mengeras,
tanda hujan telah menderas.
Hewan-hewan berlari kembali kerumahnya,
atau sekadar mencari tempat bernaung.
Aku bersama sepi,
tertegun dalam suasana itu.

0 komentar:

Posting Komentar