Tentang Dosa

Konon manusia itu tidak luput dari yang namanya dosa, tapi apa itu dosa ? secara etimologi dosa berasal dari kata dvesa (bahasa sansekerta) yang berarti kebencian, marah, merusak, tidak suka, tidak senang, tidak puas, tidak penerimaan, yang tergolong penolakkan. Secara terminologi dosa diartikan sebagai kesalahan, pelanggaran, kekeliruan, dll.

Dosa memiliki kaitan yang erat dengan moralitas (agama) dan aturan (norma dan hukum negara), karena keduanya dijadikan acuan manusia dalam bertindak tertib dan teratur dalam bermasyarakat. Ketertiban dibentuk guna mencegah adanya kekacauan (chaos) dalam kehidupan bermasyarakat, atau lebih luasnya kehidupan di dunia. Namun istilah dosa sendiri lebih akrab digunakan pada konteks keagamaan daripada konteks norma dan hukum negara. Istilah dosa dalam kenormaan mungkin lebih dekat dengan kata asusila atau imoral, sedangkan hukum negara lebih akrab dengan istilah pelanggaran atau ilegal.

Ketika seseorang dinyatakan menyimpang dengan garis moral/aturan, maka ia akan dinyatakan sebagai yang berdosa. Dan mereka yang berdosa harus menanggung konsekuensi berupa hukuman yang sudah ditentukan oleh acuan yang ada (moralitas/aturan). Dalam ranah hukum, mereka yang menyimpang dari aturan akan diberikan sanksi berupa denda, kurungan penjara, atau bahkan hukuman mati (di beberapa negara). Lalu dalam ranah kenormaan, mereka yang menyimpang akan diberikan hukuman sosial seperti dijauhi, ditinggalkan atau apapun itu yang sifatnya mengasingkan. Kemudian pada ranah agama mungkin agak kompleks, karena luas dan cukup abstrak, maka perlu dijabarkan lebih dalam. Mereka yang menyimpang dari garis agama akan dikenakan hukuman berupa siksaan di dunia (karma buruk, penderitaan psikologis, kisas, dll) dan di akhirat (neraka).

Dalam agama tertentu terdapat macam-macam perbuatan yang terindikasi sebagai dosa. Dalam agama kristen diketahui terdapat tujuh macam dosa pokok yang mematikan (seven deadly sins). Tujuh dosa ini terdiri atas pride (kesombongan), greed (ketamakan), envy (iri hati), wrath (kemarahan), lust (hawa nafsu), gluttony (kerakusan), dan sloth (kemalasan). Konsep mengenai tujuh dosa besar berawal dari pikiran seorang biarawan bernama Evagrius Ponticus. Evagrius tidak pada dasarnya tidak menulis untuk khalayak umum. Ia merupakan biarawan dari gereja kristen timur. Ia menulis kepada biarawan lain tentang adanya pemikiran buruk yang kemungkinan besar dapat mengganggu latihan spiritual mereka. Pemikiran buruk ini terbagi menjadi delapan jenis, yakni; kerakusan, nafsu, ketamakan, kemarahan, kemalasan, kesedihan, kebanggaan dan kesombongan. Namun konsep pemikiran tersebut mengalami revisi seiring berjalannya waktu. Hingga pada akhirnya konsep tersebut jatuh di tangan gereja katolik katekisme dan difinalkan menjadi tujuh dosa inti/pokok.

Kemudian dalam agama Islam, para ulama membagi dosa menjadi dua macam, yakni dosa kecil dan dosa besar. Dosa-dosa kecil adalah dosa yang berasal dari kesalahan-kesalahan kecil, sedangkan dosa besar berdasarkan suatu riwayat hadis (dari kitab ushul al-kafi) disebutkan "dosa-dosa besar adalah dosa-dosa yang mendatangkan siksa api neraka". Dijelaskan oleh Imam Ja'far al-Shadiq, setidaknya terdapat 19 macam dosa besar menurut Al-Qur'an dan sabda nabi & rasul, yakni; menyekutukan Allah (an-nisa:72) yang mana ini merupakan dosa paling besar, berputus dari rahmat Allah (yusuf:87), merasa aman dari siksa dan penangguhan Allah (al-a'raf:99), menyakiti hati atau durhaka pada orang tua (Sabda Nabi Isa), membunuh orang tak berdosa (an-nisa:93), menuduh perempuan baik berbuat zina (an-nur: 23), makan harta anak yatim (an-nisa:10), lari dari medan perang (al-anfal:16), makan riba (al-baqarah:275), sihir (al-baqarah:102), zina (al-furqan:68-69), sumpah bohong demi sebuah dosa (al-imran:161), tidak membayar kewajiban zakat (at-taubah:35), sumpah palsu dan menutupi kebenaran (al-baqarah:283), minuman keras (al-maidah:90), meninggalkan shalat atau kewajiban lain secara sengaja (sabda Rasullullah), mengingkari janji dan memutuskan hubungan silaturahmi (al-furqan:25).

Selanjutnya pada agama buddha, dosa tidak tergambar sebagai kata nomina (sebagaiamana penggambaran dosa di 2 agama sebelumnya) seperti pelanggaran atau kesalahan, penggambaran dosa dalam agama buddah cenderung mengarah pada kata sifat. Dosa dalam hal ini menjadi bagian dari tiga akar kejahatan. Tiga akar kejahatan itu adalah lobha, dosa dan moha. Dosa dalam hal ini diartikan sebagai kebencian. Kebencian terhadap orang lain, diri sendiri, iri hati, dendam kesumat dan hal-hal lain yang tergolong pada keinginan menolak sesuatu yang baik. Dalam agama buddha juga terdapat konsep kamma/karma yang dekat dengan dosa (jika di jadikan kata nomina). Kamma merupakan kehendak untuk berbuat sesuatu yang berada dalam arena roda samsara. Perbuatan-perbuatan yang ada akan menghasilkan akibat sesuai dengan nilai dari apa yang diperbuatnya. Jika seseorang senantiasa melakukan kesalehan dan kebenaran, maka ia akan terarahkan pada jalan menuju pencerahan, dan jika ia sudah tercerahkan maka ia menggapai nibbana (kebebasan dari roda samsara). Namun jika seseorang melakukan perbuatan buruk (pancanantariya kamma) apalagi sampai pada perbuatan membunuh, maka ia akan terjebak dan terjurumus ke dalam alam dukhati (terlahir kembali di neraka avici).

Dosa dalam kehidupan ini tampaknya menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Pasalnya kehidupan menuntut kita untuk bersikap plural, sehingga secara implisit terancukan antara apa-apa yang boleh (moralitas) dan tidak boleh (dosa). Belum lagi ketidaktahuan yang membawa kita pada "eksperimen-eksperimen" (yang berpotensi berdosa) dalam upaya menggapai kebenaran. Tampaknya kesadaran dan kepekaan atas dosa memang sangat amat perlu ditekankan supaya bisa lebih berhati-hati dalam melangkahkan kaki. 

Bagi sebagian orang, dosa tampak menyeramkan. Apa yang membuat dosa terlihat menyeramkan, barangkali karena ada konsekuensi/hukuman yang berada di belakangnya. Hukuman tersebut sebegitu menyakitkannya sehingga memberi kegentaran bagi mereka. Namun tidak semua orang takut dengan yang namanya dosa, bagi mereka dosa bukanlah sesuatu yang semestinya ditakutkan. Satu-satunya yang harus ditakutkan adalah Tuhannya. Bagi mereka dosa meskipun menjadi tolak ukur dalam menimbang amalan baik dan buruk (syarat dalam memasuki alam surga dan neraka), Tuhanlah yang tetap mengintervensi langsung penimbangan itu. Jika amalan baiknya banyak namun Tuhan tidak meridhainya, maka sia-sialah amalan kebaikannya. Dan begitupun sebaliknya.

Agama menawarkan pertaubatan untuk mereka yang ingin menghapus dosa-dosa yang dimilikinya. Dalam pertaubatan, masing-masing agama memiliki kekhasannya tersendiri, terutama dalam pertaubatan yang bersifat ritual. Namun bagaimanapun juga dalam praktiknya, antara idealitas pertaubatan dengan tabiat sehari-hari seringkali bentrok. Semisal, dalam pertaubatan kita dituntut untuk senantiasa mengamalkan hal-hal tertentu demi mengurangi dosa, tapi karena tabiat kita berkontradiksi dengan amalan tersebut akhirnya sulit bagi kita untuk mengupayakan diri dalam bertaubat. Dibutuhkan usaha yang ekstra dalam pelaksanaannya.

Sumber:
https://www.history.com/news/seven-deadly-sins-origins
Dosa Salah Siapa: Mengenali dan Mengatasi Dampak Buruk Dosa karya Muhsin Qiraati
Pokok-pokok Dasar Ajaran Buddha karya Warsana S.Ag, S.Pd.

0 komentar:

Posting Komentar